CEO

CEO The Washington Post Mundur Usai PHK Massal

CEO Sekaligus Penerbit Surat Kabar Ikonik Amerika Serikat The Washington Post, Resmi Mengundurkan Diri Dari Jabatannya Pada 7 Februari 2026. Hanya beberapa hari setelah perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang mengguncang industri media. Keputusan ini menandai babak baru dalam krisis internal yang tengah dialami salah satu lembaga media terbesar di dunia.

Pengunduran diri Lewis di umumkan melalui memo kepada staf yang kemudian di bagikan secara luas melalui media sosial. Dalam suratnya, Lewis menyebut bahwa setelah dua tahun memimpin wartawan dan staf bisnis, saat ini adalah “waktu yang tepat untuk mundur”. Sambil menyampaikan terima kasih kepada pemilik perusahaan, miliarder Jeff Bezos. CEO Lewis menegaskan bahwa selama masa jabatannya, berbagai “keputusan sulit” di ambil demi memastikan The Post bisa terus beroperasi secara berkelanjutan dan tetap menyajikan jurnalisme yang berkualitas dan non-partisan di masa depan.

Dalam pernyataannya, CEO Lewis mengatakan bahwa langkah-langkah yang di ambil itu bertujuan menjaga kelangsungan hidup media dalam era transformasi digital dan tantangan ekonomi yang semakin berat. “Setiap hari, pembaca memberi kami peta jalan menuju kesuksesan,” kata Bezos merujuk pada pentingnya data pembaca dalam menentukan arah redaksi dan bisnis ke depan.

PHK Massal yang Memicunya

Sebelum pengunduran diri Lewis, The Washington Post telah melaksanakan PHK pada 4 Februari 2026, yang memangkas sekitar sepertiga dari total stafnya — termasuk lebih dari 300 jurnalis dari berbagai divisi. Sektor yang terkena dampak meliputi liputan olahraga, berita lokal, internasional, hingga tim koresponden di luar negeri, termasuk wartawan yang berbasis di kota konflik seperti Kiev, Ukraina.

Langkah tersebut merupakan salah satu aksi restrukturisasi besar yang di berlakukan di tengah tekanan finansial yang berat. The Post di laporkan mengalami kerugian tahunan puluhan juta dolar dalam beberapa tahun terakhir. Dan manajemen menyatakan bahwa pengurangan tenaga kerja itu merupakan bagian dari strategi untuk menstabilkan kondisi keuangan.

Namun, pemangkasan besar ini memicu gelombang protes dari karyawan, serikat pekerja, dan tokoh jurnalistik. Ratusan jurnalis dan pendukung kebebasan pers turun ke luar kantor pusat The Washington Post di Washington DC. Untuk menyuarakan penolakan mereka terhadap PHK dan mempertanyakan masa depan jurnalisme independen.

Serikat pekerja The Washington Post Guild bahkan menyambut pengunduran diri Lewis dengan nada keras. Menyebut kepergiannya “telah lama di nantikan” dan menuding kebijakannya menghancurkan institusi jurnalistik besar tersebut. Mereka juga mendesak Bezos untuk membatalkan PHK atau bahkan menjual surat kabar kepada pihak yang lebih peduli terhadap masa depan jurnalisme.

Kritik Terhadap Kepemimpinan CEO Lewis

Masa kepemimpinan Lewis di The Post tidak lepas dari kontroversi sejak awal. Ia di angkat sebagai CEO dan penerbit pada 2023, menggantikan Fred Ryan dan bertugas melakukan transformasi dalam organisasi untuk menghadapi era digital. Namun, berbagai keputusan yang di ambilnya ternyata tidak diterima baik oleh banyak staf maupun publik.

Sebelum PHK terbaru, masih menurut laporan, The Post pernah melakukan reorganisasi internal. Termasuk perubahan struktur editorial dan pemangkasan peran staf, yang sebelumnya memicu ketegangan di dalam newsroom. Kritik kepada Lewis antara lain mencakup kurangnya komunikasi langsung dengan staf dalam periode krisis. Serta persepsi bahwa beberapa strategi yang di jalankan kurang efektif dalam menghadapi tantangan industri media yang terus berubah.

Perubahan Kepemimpinan dan Tantangan Ke Depan

Setelah mundurnya Lewis, The Washington Post menunjuk Jeff D’Onofrio, yang sebelumnya menjabat sebagai Chief Financial Officer. Sebagai acting publisher dan CEO secara efektif serta merta. D’Onofrio di kenal memiliki pengalaman di dunia teknologi dan bisnis media, termasuk pernah menjadi CEO platform Tumblr.

Peran baru ini di sebut Jeff Bezos sebagai peluang untuk membawa The Post ke arah yang lebih stabil dan berkelanjutan. D’Onofrio sendiri menyatakan bahwa ia akan menjalankan peran barunya dengan menggabungkan jurnalisme berkualitas tinggi dengan pondasi bisnis yang kuat.