Bisnis Tekstil Dulu Ramai Jadi Primadona, Kini Pasar Cipadu Kian Sepi

Bisnis Tekstil Dengan Suasana Saat Ini Di Pasar Cipadu, Kota Tangerang, Banten, Kini Tidak Seramai Seperti Dahulu

Bisnis Tekstil Dengan Suasana Saat Ini Di Pasar Cipadu, Kota Tangerang, Banten, Kini Tidak Seramai Seperti Dahulu. Kawasan yang selama bertahun-tahun di kenal sebagai “surga tekstil” itu perlahan kehilangan keramaian yang pernah menjadikannya primadona bagi para pedagang kain, busana, hingga perlengkapan konveksi. Banyak kios tampak tutup, sementara lalu-lalang pembeli tidak sepadat masa kejayaannya.

Pasar Cipadu sempat menjadi tujuan utama pemburu tekstil dari berbagai daerah. Tidak sedikit pelaku usaha konveksi kecil hingga skala menengah yang menggantungkan pasokan kain dari pusat tekstil ini. Namun seiring perubahan zaman, kondisi pasar di sebut makin sepi dan omzet pedagang terus menurun.

“Dulu ramai sekali, apalagi kalau akhir pekan. Sekarang lebih banyak yang lihat-lihat saja, belinya sedikit,” ujar salah seorang pedagang tekstil yang sudah belasan tahun berjualan di Cipadu.

Bisnis Tekstil Dulu Jadi Magnet Pembeli Dari Berbagai Daerah

Para pedagang menceritakan bahwa masa kejayaan Pasar Cipadu terjadi saat permintaan kain dan produk tekstil sedang tinggi. Pembeli datang tidak hanya dari Tangerang dan Jakarta, tetapi juga dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, bahkan luar pulau. Cipadu dikenal dengan variasi jenis kain yang lengkap, harga bersaing, serta kemudahan bernegosiasi langsung dengan pedagang. Bisnis Tekstil Dulu jadi Magnet Pembeli Dari Berbagai Daerah.

Banyak pelanggan lama adalah pelaku usaha rumahan—mulai dari penjahit, produsen gamis, hingga konveksi seragam sekolah. Momentum puncak biasanya terjadi menjelang musim Lebaran, tahun ajaran baru, dan periode hajatan.

Namun kondisi itu kini berubah. Beberapa pedagang mengaku pembeli berkurang drastis dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, ada yang menutup kios karena biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan.

Tekanan Penjualan Online dan Impor Jadi Faktor Besar

Salah satu faktor utama yang di sebut pedagang adalah pergeseran pola belanja masyarakat. Munculnya e-commerce membuat pembeli lebih memilih kain dan pakaian secara online karena di anggap lebih praktis. Selain itu, banyak penjual online menawarkan harga yang lebih rendah berkat sistem stok besar, promosi, dan diskon ongkir.

“Sekarang orang beli kain banyak yang lewat online. Mereka lihat harga dulu, terus bandingin. Kalau kami nggak bisa turunin harga, susah bersaing,” kata pedagang lainnya.

Selain persaingan digital, pedagang juga menyinggung membanjirnya produk tekstil impor yang lebih murah. Barang-barang impor tersebut masuk ke pasar dengan harga rendah sehingga membuat pasar tradisional seperti Cipadu semakin tertekan.

Para pelaku usaha menilai kondisi ini tidak hanya memukul pedagang, tapi juga merembet ke produsen lokal. Banyak kain lokal kalah bersaing, terutama di segmen harga bawah.

Daya Beli Masyarakat Turun, Penjualan Ikut Lesu

Faktor lain yang memperparah kondisi adalah melemahnya daya beli masyarakat. Beberapa pedagang mengaku pelanggan yang dulu berbelanja dalam jumlah besar kini cenderung menahan belanja atau membeli dalam porsi kecil.

Jika sebelumnya pembeli bisa mengambil gulungan kain untuk stok bulanan, kini banyak yang hanya membeli seperlunya. Pedagang pun harus mengatur stok lebih ketat agar tidak menumpuk barang yang lama terjual. Daya Beli Masyarakat Turun, Penjualan Ikut Lesu.

Situasi ekonomi yang naik turun membuat sebagian konsumen lebih fokus pada kebutuhan pokok. Akibatnya, penjualan kain dan produk fashion di pasar tradisional ikut terdampak.

Harapan Pedagang: Revitalisasi dan Dukungan UMKM

Meski kondisi menurun, pedagang berharap Pasar Cipadu masih bisa kembali bangkit. Mereka mendorong adanya revitalisasi pasar, perbaikan fasilitas, serta promosi wisata belanja agar Cipadu kembali dilirik masyarakat.

Beberapa pedagang juga berharap pemerintah memberi dukungan bagi UMKM tekstil melalui pelatihan digital marketing dan perluasan akses pasar. Menurut mereka, pedagang tradisional sebenarnya ingin beradaptasi, tetapi sering terkendala modal, kemampuan teknologi, dan akses pemasaran.

Pasar Cipadu pernah menjadi simbol ramainya bisnis tekstil yang menggerakkan ekonomi warga. Kini, ketika suasana pasar semakin sepi, banyak pedagang hanya berharap satu hal: roda perdagangan bisa kembali berputar seperti dulu—meski mungkin tidak lagi sama persis, tetapi tetap memberi harapan bagi ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari tekstil.