
Catat! 4 Aturan Baru Yang Bikin Liburan Ke Jepang Mahal
Catat! 4 Aturan Baru Yang Bikin Liburan Ke Jepang Mahal Dengan Berbagai Alasan-Alasan Utama Kebijakan Mereka. Halo para traveler dan penggemar Jepang! Jepang, yang selama ini menjadi salah satu destinasi impian banyak orang. Dan juga nampaknya akan semakin eksklusif. Terlebih mulai tahun depan, bersiaplah untuk merogoh kocek lebih dalam. Karena pemerintah Jepang telah menetapkan beberapa aturan baru yang secara signifikan akan memengaruhi biaya liburan anda. Kenaikan harga bukan hanya datang dari faktor ekonomi. Namun melainkan juga dari kebijakan yang menyentuh berbagai aspek. Mulai dari transportasi hingga akomodasi. Oleh karena itu, Catat untuk mengetahui secara detail apa saja aturan yang di maksud agar anggaran liburan anda tidak jebol.
Catat! 4 Aturan Baru Yang Bikin Liburan Ke Jepang Mahal Mulai Tahun Depan
Pajak Penginapan Naik Di Berbagai Daerah
Mulai tahun depan biaya liburan ke Jepang di pastikan akan semakin mahal. Tentu salah satunya karena adanya kebijakan baru mengenai kenaikan pajak penginapan di berbagai daerah. Dan pajak penginapan atau shukuhaku-zei ini sejatinya bukan hal baru di Jepang. Namun beberapa kota besar serta daerah wisata populer mulai memperluas penerapannya dengan tarif yang lebih tinggi. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mengendalikan masalah overtourism. Kemudian juga menjaga infrastruktur publik, sekaligus menambah pendapatan daerah yang bisa di pakai. Terlebihnya untuk perawatan fasilitas umum dan situs budaya. Kota Kyoto menjadi sorotan utama karena pemerintah setempat berencana menaikkan tarif pajak penginapan secara signifikan mulai Maret 2026. Bagi wisatawan yang memilih akomodasi mewah. Dan tarif pajak bisa mencapai hingga ¥10.000 per orang per malam. Serta berlaku bagi tamu dengan tarif di atas ¥100.000 per malam.
Harga Tiket Wisata Khusus Turis Asing
Liburan ke Jepang untuk wisatawan asing bakal terasa lebih mahal. Namun bukan hanya karena pajak penginapan. Akan tetapi juga karena sejumlah kebijakan baru terkait harga tiket masuk destinasi wisata yang di khususkan bagi non-residen. Semua ini merupakan respons terhadap overtourism. Dan juga dengan upaya meningkatkan pendanaan untuk pemeliharaan situs-situs penting. Pertama, pada pendakian Gunung Fuji, yang merupakan ikon wisata alam Jepang. Mulai musim panas 2025 semua jalur pendakian. Serta tidak hanya Yoshida Trail. Namun akan menerapkan biaya masuk sebesar ¥4.000 per orang. Ini merupakan kenaikan signifikan dari tarif sebelumnya.
Belanja Bebas Pajak (Tax-Free) Di Ubah
Selama ini, salah satu daya tarik berbelanja di Jepang bagi turis asing adalah kemudahan sistem tax-free. Dan wisatawan yang berbelanja di toko-toko bertanda “免税 / Tax-Free”. Tentunya bisa langsung terbebas dari pajak konsumsi sebesar 10%. Sehingga harga barang menjadi lebih murah. Prosesnya pun sederhana: cukup menunjukkan paspor di kasir. Lalu pajak langsung di hapuskan dari tagihan. Namun, aturan tersebut tidak akan berlaku lagi mulai beberapa tahun ke depan. Karena pemerintah Jepang mengubah sistemnya secara menyeluruh.
ESTA (Japan Electronic Travel Authorization)
Selama ini, turis asing dari negara-negara bebas visa bisa masuk Jepang hanya dengan paspor yang masih berlaku. Tentunya tanpa harus mengurus dokumen tambahan. Namun, mulai 2025, Jepang akan memperkenalkan sistem baru bernama JESTA (Japan Electronic Travel Authorization). Skema ini mirip dengan ESTA di Amerika Serikat atau ETA di Australia. Terlebihnya yaitu sebuah izin perjalanan elektronik yang wajib d iurus secara online sebelum memasuki Jepang. Dengan sistem JESTA, wisatawan dari negara yang termasuk kategori bebas visa tetap perlu mengisi formulir online. Dan membayar biaya administrasi. Serta mendapatkan persetujuan perjalanan elektronik sebelum keberangkatan. Tanpa dokumen ini, wisatawan bisa di tolak masuk meski sudah punya tiket pesawat dan paspor valid. Alasan penerapan JESTA adalah untuk memperketat kontrol perbatasan, mencegah masuknya imigran ilegal, serta meningkatkan keamanan nasional. Selain itu, penerapan sistem ini juga di anggap sebagai cara untuk menambah pemasukan negara. karena setiap aplikasi akan di kenakan biaya.